Free Blooming Purple Rose Cursors at www.totallyfreecursors.com
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

Kisah Seorang Nelayan


Konon, ada seorang nelayan yang ulet dalam bekerja. Sehari mencari ikan, lalu pada hari-hari berikutnya dia memilih tinggal di rumahnya hingga waktu yang Allah kehendaki. Jika persediaan ikannya telah habis, dia segera menuju ke pantai untuk mencari ikan lagi.
Pada suatu hari, ketika istri nelayan itu sedang memotong-motong hasil tangkapan suaminya, tiba-tiba dia melihat sesuatu yang menakjubkan. Dia melihat dalam perut ikan itu sebuah permata.
"Ada permata dalam perut ikan? Subhanallah! Suamiku... Suamiku! Lihat, apa yang aku dapatkan," serunya keheranan.
"Ada apa?" "Ini ada mutiara! Mutiara dalam perut ikan." "Oh, engkau betul-betul seorang istri yang luar biasa. Bawa ke sini, semoga kita bisa bertahan hidup dengannya hari ini, dan kita bisa makan sesuatu yang lain dari ikan."
Nelayan itu segera mengambil mutiara itu kemudian membawanya ke tetangganya seorang penjual mutiara.
Tetangganya memandangi mutiara itu, lalu berkata, "Sayang sekali saya tidak bisa membelinya. Ooh, ini tidak ternilai harganya! Seandainya saya menjual toko dan rumah saya, itu pun tetap tidak akan mampu mencukupi harganya. Tapi cobalah datangi seorang pedagang besar di kota seberang, siapa tahu dia mampu untuk membelinya dari Anda."
Nelayan itu akhirnya mengambil kembali mutiara itu dan berangkat menemui seorang pedagang besar di kota seberang.
Setibanya di sana, nelayan itu lalu menceritakan kisahnya kepada pedagang itu.
"Allah Akbar! Demi Allah Saudaraku, apa yang Anda miliki ini tidak ternilai harganya. Tapi saya bisa menunjukkan kepada Anda jalan keluarnya. Temuilah penguasa kota ini, karena dialah yang mampu membeli mutiara sejenis ini."
Setibanya di pintu gerbang istana, nelayan itu berhenti, menunggu ijin untuk masuk.
Setelah mendapat ijin masuk, nelayan itu pun menemui penguasa kota.
"Allah Akbar! Mutiara jenis inilah yang aku cari. Aku tidak tahu bagaimana menaksir harganya. Tapi aku akan mempersilakanmu untuk masuk ke gudang perbendaharaan khususku. Engkau boleh tinggal di dalamnya enam jam, dan silakan ambil dari gudang itu apa saja yang kamu inginkan, dan itulah sebagai pengganti harga mutiara."
"Wahai yang mulia, tidak mengapa Anda menjadikannya dua jam saja.Enam jam untuk seorang nelayan seperti saya sudah sangat cukup."
"Tidak! Enam jam itu waktu yang saya berikan untuk kamu mengambil barang-barang apa saja yang kamu inginkan."
Maka masuklah si nelayan ke dalam gudang penguasa kota itu.
Tiba-tiba ia melihat pemandangan yang luar biasa. Sebuah ruangan yang sangat besar. Ruangan itu terbagi tiga kamar, kamar pertama dipenuhi oleh permata, emas, dan mutiara. Kamar berikutnya terhampar di dalamnya kasur-kasur yang empuk, sekadar memandangnya sekali saja, maka ia akan langsung tertidur dengan pulas. Ruangan terakhir dipenuhi oleh beraneka jenis makanan dan minuman yang sangat digemari.
Nelayan itu bergumam, "Enam jam? Waktu yang sangat panjang untuk seorang nelayan sederhana sepertiku. Apa yang akan aku lakukan selama enam jam itu? Ah, aku akan mencicipi makanan-makanan yang tersedia di kamar tiga terlebih dahulu. Aku akan makan sampai benar-benar kenyang,  agar bisa menambah kekuatanku sehingga memungkinkanku untuk mengumpulkan emas sebanyak-banyaknya."
Nelayan itu pun bergegas menuju kamar tiga. Di sana, ia menghabiskan waktu dua jam. Makan dan terus makan. Sampai ketika persediaan makanan itu telah ia habiskan, ia pun kembali ke kamar pertama.
Dalam perjalan, pandangannya tertuju ke kasur yang empuk. Ia berkata dalam hati, "Aku telah makan hingga benar-benar kenyang, mengapa aku tidak tidur dulu agar bisa menambah tenaga yang memungkinkanku untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya? Ini kesempatan yang tak akan terulang, menyia-nyiakannya adalah sebuah kebodohan."
Nelayan itu pun menghampiri kasur empuk itu,  lalu berbaring, hingga tertidur dengan sangat pulas.
Waktu berlalu demikian cepat.
"Bangun! Bangun wahai nelayan bodoh! Kesempatanmu sudah habis."
"Hah, apa....?!" 
"Yah, cepat keluar!"
"Saya mohon...... saya akui memang tidak menggunakan kesempatan ini dengan memadai."
"Hah, enam jam lamanya kamu berada dalam gudang harta ini, dan sekarang kamu baru terbangun dari kelalaianmu. Kamu ingin tambahan permata? Bukankah kamu sudah diberi kesempatan untuk mengumpulkan permata-permata ini sampai kamu keluar dari sini, lalu dengannya kamu bisa membeli makanan terlezat dan terbaik. Kamu pun bisa membuat kasur-kasur yang paling mengagumkan dan nyaman? Sayang sekali, kamu ini bodoh dan lalai. Kamu tidak memikirkan kecuali apa yang ada di sekitarmu. Bawa orang ini keluar!"
"Jangan! Jangan! Saya mohon Tuan, saya mohon! Tidaaak!!!
 ________________________________________________
Kisah ini berakhir sampai di sini,tapi pelajaran dan hikmah dari kisah ini belum berakhir.
Menurut Anda, apakah permata itu?
Itulah nyawa Anda. Harta yang tak ternilai harganya. Sayangnya, Anda tidak menyadari betapa besar nilai nyawa Anda.
Lalu apakah gudang harta itu menurut Anda?
Itulah dunia. Lihatlah kebesarannya, dan perhatikan bagaimana kita mengeksploitasinya.
Adapun permata-permata itu, itulah amal-amal shaleh. Dan kasur-kasur empuk itu adalah kelalaian.
Sementara makanan dan minuman-minuman itu melambangkan syahwat.
Dan sekarang, wahai Saudaraku, "Nelayan", kapankah Anda akan terbangun dari tidur Anda, dan meninggalkan kasur-kasur empuk itu, lalu Anda mengumpulkan permata-permata yang berserakan di sekitar Anda, sebelum berakhirnya waktu yang diberikan kepada Anda, yaitu umur Anda, lalu Anda meninggalkan dunia dalam keadaan menyesal. [SQ]
Diterjemahkan dari milis "Alumni Institusi-institusi Pendidikan Tinggi Wahdah Islamiyah" dari artikel kiriman Syaikh Dr. Rusyud—hafizhahullah

Selasa, 21 Juni 2011

Kawinilah Aku, Kau kukontrak: Potret Nikah Mut'ah Sepasang Syiah (2-Habis)


             Pada tahun 1990 bertepatan dengan 1411 Hijriah majalah ASA (Assabiqunal Awwalun) edisi 5, 1411H, menurunkan sebuah kisah berjudul “Pasien Terakhir“. Tulisan berjumlah tiga lembar ini menuturkan kisah seorang mahasisiwi Syiah di Bandung yang mengidap penyakit seksual akibat kebiasaan nikah mut’ah.
Hal itu terungkap dari kecurigaan seorang Dokter bernama Hanung menangani sang korban. Awalnya sang dokter merasa heran ketika seorang mahasiswi yang lebih cocok dipanggil ukhti itu, mengeluh merasa sakit di sekitar (maaf) alat kelaminnya. Usut punya usut ternyata hal itu terkait dengan sebuah pengajian.
Apa hubungannya penyakit kelamin dengan pengajian? Rupanya ukhti tersebut telah akrab mengikuti pengajian aliran Syiah yang memang mengiming-imingi pahala dengan nikah mut'ah. Ia pun bergonta-ganti bersama pasangan-pasangan Syi'i lainnya lengkap dengan titah bahwa mut'ah tidak bertabrakan dengan agama. Abu Abdullah berkata, "menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut'ah adalah wanita sewaan.". Begitu bunyi ayat di Al Kafi, sebuah kitab panutan aliran Syiah.
Kisah ukhti berkerudung lebar ini pun sempat dilaporkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) kepada Kejaksaan Agung dan seluruh gubernur. Semoga kejadian yang menimpa wanita berkerudung lebar tersebut bisa menjadi ibrah bagi kita. Jangan melihat Syiah dari janji manisnya, tapi selami ajarannya.
Untuk tidak berpanjang kalam, berikut kami tampilkan kisah lengkapnya. Selamat membaca.
***
Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vaginal discharge).
Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka di kakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Di sebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Di ujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan acne vulgaris (jerawat) yang ia alami.
Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu persatu pasien berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucapkan salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Di pojok ruang, terdapat sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.
Sejenak dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat dan bercadar. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter
Hanung membuka amplop hasil laboraturium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboraturium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin seorang wanita berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan sexksual.
Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.
+ “Saudari masih kuliah?”
- “Masih dok.”
+ “Semester berapa?”
- “Semester tujuh dok.”
+ “Fakultasnya?”
- “Sospol”
+ “Jurusan komunikasi massa ya?”
Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.
- “Kok dokter tahu?”
+ “Aah,….tidak, hanya barangkali saja!”
Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakit itu.
+ “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?
Pasien terakhir itu nampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.
- “Ada apa sih Dok…..kok tanya macam-macam?”
+ “Aah enggak,……..barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang saudari derita.”
Pasien terakhir ini tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.
- “Saya dari Pekalongan.”
+ “Kost-nya?”
- “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63.”
+ “Di kampus sering mengikuti kajian Islam yaa?”
- “Ya,..kadang-kadang Dok.”
+ “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”
Sekali lagi pasien terakhir itu menatap dokter Hanung.- “Bang Jalal siapa?” Tanyanya dengan nada agak tinggi.
+ “Tentu saja Jalaluddin Rachmat, Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia….kalau di Yogya ada Bang Jalal Muksin.”
- “Yaa,…….kadang-kadang saja saya ikut.”
+ “Di Pekalongan,……(sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”
Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai. Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan dokter Hanung berkata.
- “Begini saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk therapi penyakit yang saudari derita,…………..”
Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.
+ “Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini.”
- “Sakit apa dok?” Pasien terakhir itu memotong kalimat dokter Hanung yang belum selesai dengan amat Penasaran.
+ “Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboraturium semuanya menyokong diagnosis gonorhe, penyakit yang disebabkan hubungan seksual.” Seperti disambar geledek perempuan berjilbab biru dan berhijab itu, pasien terakhir dokter Hanung sore itu berteriak,
“Tidak mungkin!!!”
Dia lantas terduduk di kursi lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan dokter Hanung. Pandangan matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi. Sementara itu pembantu dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa maka pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jeritan pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.
Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktek tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya yang dia tidak habis pikir itu kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkit perempuan-perempuan nakal.
Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama dan uniknya sama-sama mengenakan busana muslimah. Hanya yang pertama dahulu tidak mengenakan hijab penutup muka seperti pasien yang terakhirnya sore itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian muslimah, ketika didesak akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut’ah.
Pasiennya yang dahulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi’ah yang ada di Bandung ini. Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan Syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada di depannya sore itu.
+ “Bagaimana saudari… penyakit yang anda derita ini tidak mengenai kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya ini tidak mungkin terjadi pada seorang muslimah seperti anda. Kalau itu masa lalu anda baiklah saya memahami dan semoga dapat sembuh, bertaubatlah kepada Allah,….atau mungkin ada kemungkinan yang lain,…?”
Pertanyaan dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban pasien terakhirnya sore itu. Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.
- “Saya tidak percaya dengan perkataan dokter tentang penyakit saya !” Katanya terbata-bata.
+ “Terserah saudari,…….tetapi toh anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang anda sandang-kan?”
- “Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut sedangkan saya selalu berada di dalam suasana hidup yang taat kepada hukum Allah?”
+ “Sayapun berprasangka baik demikian terhadap diri anda,….tetapi kenyataan yang anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri.”
Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh tanda tanya mengetahui dokter Hanung yang menunggui pasiennya itu.
+ “Cobalah introspeksi diri lagi, barangkali ada yang salah,…….. sebab secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut.”
- “Tidak dokter,…….selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syari’at Islam,…..saya tetap tidak percaya dengan analisa dokter.”
Dokter Hanung mengerutkan keningnya mendengar jawaban pasiennya. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisisnya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya. Dengan penuh kearifan dokter itu bertanya lagi,……..
+ “Barangkali anda biasa kawin mut’ah?? Pasien terakhir itu mengangkat muka,
- “Iya dokter, Apa maksud dokter”?
+ “Itu kan berarti anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas."
- “Lho,… tapi itukan benar menurut syari’at Islam dok!" Pasien itu membela diri.
+ “Ooo,…Jadi begitu,…kalau dari tadi anda mengatakan begitu saya tidak bersusah payah mengungkapkan penyakit anda. Tegasnya anda ini pengikut ajaran Syi’ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut’ah semau anda. Ya itulah petualangan seks yang anda lakukan. Hentikan itu kalau Anda ingin selamat”.
- “Bagaimana dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut Syari’at Islam sesuai dengan keyakinan saya, dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis.”
Sampai di sini dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasiennya yang tidak mempunyai aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.
+ “Terserah apa kata saudari membela diri,… anda lanjutkan petualangan seks anda, dengan resiko anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu,…atau anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu, kalau anda menghendaki kesembuhan!”
- “Ma..maaf, Dok, saya telah membuat dokter tersinggung!” Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasiennya yang terbata-bata itu.
+ “Begini saudari,…tidak ada gunanya resep saya berikan kepada anda kalau toh tidak berhenti dari praktek kehidupan yang selama ini anda jalani. Dan semua dokter yang anda datangi pasti akan bersikap sama,… sebab itu terserah kepada saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh anda tidak mau berhenti.”
- “Ba…baik , Dok, …Insya Allah akan saya hentikan!”
Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien terakhir itu, kemudian menyodorkan kepadanya.
- “Berapa Dok?”
+ “Tak usahlah,….saya sudah amat bersyukur kalau anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan dari Rasulullah. Saya relakan itu untuk membeli resep saja.”
Pasien terakhir dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban dokter Hanung.
- “Terima kasih Dok,…….permisi.”
Perempuan itu kembali melangkah selangkah demi selangkah di pelataran rumah Dokter Hanung. Ia berjalan keluar teras dekat bougenvil biru yang seakan menyatu dengan warna jilbabnya. Sampai di gerbang dia menoleh sekali lagi ke teras, kemudian hilang ditelan keramaian kota Bandung yang telah mulai temaran di sore itu.(er)

Kamis, 16 Juni 2011

Kawinilah Aku, Kau Kukontrak: Potret Nikah Mut’ah Sepasang Syiah (1)

Minggu 5 Oktober 1997, Harian Media Indonesia, menurunkan sebuah berita mengenai kehidupan mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani nikah mut’ah sebagai sebuah doktrin dalam Syiah.
Kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, tentang kesesatan ajaran Syiah yang tidak hanya cacat secara akidah, namun juga dipenuhi kejangggalan dalam perkara syahwat biologis.

Anehnya, sekalipun perkawinan berlangsung dalam jangka waktu tertentu saja, serta dapat dilakukan tanpa ada saksi dan wali ini banyak ditentang kalangan agamawan, namun masih tetap banyak pasangan yang melakukannya. Bahkan, saat itu kawin kontrak telah pula merambah kehidupan kalangan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.
Meskipun, bila diamati, tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa yang melakukan kawin kontrak adalah para penganut aliran Syiah. Harian Media Indonesia pun kemudian mencoba mengurai pelaku nikah mut’ah yang tidak lain sepasang mahasiswa Yogja.
Tengok saja pengakuan Ani –bukan nama sebenarnya- mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta yang telah dua kali menjalani kawin kontrak. Menurut wanita yang saat itu berusia 24 tahun, menyatakan bahwa bujukan dari pasangannyalah yang telah mampu meluluhkan hatinya untuk melakukan kawin kontrak.
Ceritanya begini. Sekitar tahun 1992 saat baru memasuki jenjang kuliah, ia jatuh cinta pada kakak kelasnya, sebut saja Adi. Penampilannya yang sopan serta ketekunan ibadah lelaki pujaannya itu, semakin mempertebal rasa cinta wanita ini. Ibarat gayung bersambut, ternyata sang kekasih memiliki perasaan yang sama. Maka ketika Adi menyatakan cintanya, kesempatan itu tentu saja tak disia-siakan begitu saja, ia pun langsung menerimanya dengan sepenuh hati.
Rasa cinta mereka pun semakin hari semakin tumbuh subur. Tak ayal setiap ajakan dan permintaan pacarnya selalu dituruti. Bukan apa-apa, sebab ia sudah menganggap pacarnya itu bukan orang lain lagi. Waktu pun terus berlalu. Sekitar enam bulan sejak mereka pacaran. Ani diajak pacarnya untuk masuk ke dalam sebuah kelompok pengajian Syiah. Kala itu ia tidak menolaknya sedikitpun. Apalagi Ani, anak kedua dari dua bersaudara ini masih merasakan kurang dalam ilmu agama.
Awalnya, ketika baru beberapa kali mengikuti pengajian ini. Ia merasakan ada perbedaan ajaran Syiah dengan apa yang pernah didapatnya di bangku sekolah dulu. Tapi, segala prasangka buruk segera ditepisnya, karena ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Adi, pacarnya itu tak akan menjerumuskan dirinya dalam kesesatan.
“Saya sempet bertanya kepada Adi, tapi ia menyuruh saya agar pasrah dan ikhlas”. Kenang Ani.

Tak lama berselang, kurang lebih satu tahun sejak mereka bergabung dalam kelompok ini, tanpa diduga Adi mengutarakan isi hatinya untuk melakukan kawin kontrak dengannya. Pasalnya, sesuai dengan apa yang diajarkan Imam pada aliran Syiah ini, perkawinan dapat dilakukan dengan cara kawin kontrak. Dalam keyakinan Syiah, langkah ini ditujukan untuk menghindari diri dari godaan nafsu biologis serta perbuatan zina.
Yakin akan pengajaran itu, Ani pun menerima ajakan pacarnya itu. Acara Ijab kabul segera dilaksanakan. Mereka berdua sepakat untuk menjalani kawin kontrak untuk jangka waktu satu tahun.
“Saat itu tak ada lagi keraguan. Saya malah senang karena kebutuhan kami, baik lahir dan batin dapat terpenuhi tanpa melanggar larangan agama”. Ujar mahasiswi yang kini sedang menjalani ujian skripsi ini.
Padahal, menurutnya kalau dibayangkan saat itu, entah bagaimana sikap orang tuanya seandainya mereka tahu langkah yang telah dijalaninya. Bagaimana tidak, kawin kontrak itu dilakukan tanpa persetujuan serta saksi orang tuanya. Sebab, menurut kelompok ini saksi dapat diwakili oleh ketua kelompok serta orang-orang yang hadir saat itu.
“Orang tua tidak wajib datang atau menjadi saksi. Ada yang mewakili sebagai saksi saja sudah cukup”. Ungkap wanita itu dengan enteng.
Setelah satu tahun berlalu, rasa bosan mulai timbul di hati kedua insan ini. Mereka pun sepakat untuk tidak meneruskan ikatan perkawinan yang telah dijalani keduanya sejak satu tahun silam. Ani pun kembali menjalani kehidupannya tanpa seorang kekasij di sisinya.
Tapi, ini tak berlangsung lama. Dan ternyata kekasih barunya itu tak lain adalah adik kandung Adi sendiri, mantan “suaminya” yang dulu. Alasannya, Ani telah merasa cocok dengan lingkungan keluarga Adi.
Bisa diduga, keduanya juga melakukan kawin kontrak dengan jangka waktu satu tahun. Dan seperti sebelumnya, kawin kontrak ini pun hanya berumur satu tahun saja.
“Saya tidak menemukan kasih sayang seperti yang diberikan kakaknya, sehingga setelah satu tahun saya memutuskan tidak meneruskan lagi” tambah anak seorang pengusaha yang bergerak dibidang kontraktor ini.
Sebenarnya, selama ia menjalani kawin kontrak tak sedikit gunjingan yang diterimanya. Namun diibaratkan, ‘masuk kuping kanan keluar kuping kiri’, tak satupun gunjingan itu yang digubrisnya. Tetapi, lama kelamaan mereka ini merasa dikucilkan teman-temannya, dan Ani pun merasa stres, terlebih sejak ia pisah dengan ‘suami’ keduanya.
“Saya mulai dijauhi teman-teman kost, mereka tampak sekali menjaga jarak”. Katanya dengan sedikit terbata-bata.
Untungnya, sikap teman-teman serta dasar agama yang dimilikinya waktu kecil mampu menuntunnya untuk meninggalkan kebiasaan kawin mut’ah. “Akhirnya, saya memutuskan untuk menjauhi kehidupan yang selama ini telah saya lakukan itu”. Tutur wanita yang tampak tegar akan keadaannya itu. Alhamdulillah. (pz/eramuslim)
Insya Allah bersambung…

Kamis, 28 April 2011

R.A. Kartini dan Para Yahudi Belanda

Surat-surat Kartini yang kental dengan doktrin pluralisme agama, okultisme, dan humanisme ala Theosofi banyak ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang berdarah Yahudi. Siapa saja mereka?

Oleh Artawijaya*

Lewat sebuah iklan di Majalah De Hollandse Lelie, sebuah majalah wanita yang terkenal pada saat itu dan terbit di Belanda, Raden Ajeng Kartini (1879-1904) berkenalan dengan Estella H Zeehandelaar, seorang perempuan Yahudi pejuang feminisme radikal yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Estella- atau yang disebut oleh Kartini dalam surat-suratnya dengan Stella, adalah anak seorang dokter dari keluarga Yahudi. Stella dikenal sebagai pegiat feminisme, sosialisme, aktivis penyayang binatang, dan seorang vegetarian layaknya penganut Theosofi yang cukup berpengaruh saat itu. Stella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP), partai pengusung sosialis-demokrat di negeri Belanda yang ketika itu memperjuangkan sosialisme dan humanisme, termasuk ide-ide tentang kesetaraan gender dan pluralisme.

Perkenalan Kartini dengan Stella berlangsung lewat korespondensi surat-menyurat. Surat pertama ditulis Kartini pada 25 Mei 1899, ketika usianya menginjak 20 tahun. Tak sulit bagi Kartini untuk menjalin hubungan dengan orang-orang Belanda, mengingat sebagai anak priyai Jawa, ia mempunyai akses yang mudah untuk melakukan itu. Teman-temannya semasa di Europese Lagere School (ELS) kebanyakan adalah anak-anak Eropa, khususnya Belanda. Paman dan saudara-saudaranya juga dekat dengan elit Belanda.

Surat menyurat Kartini dengan Stella banyak membicarakan mengenai kebatinan dan keyakinan agama. Dalam surat-suratnya, Stella juga banyak memperkenalkan Kartini dengan berbagai paham modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Mengenai persahabatannya dengan Kartini, Stella pernah menulis surat kepada Ny. Nellie van Koll, tertanggal 28 Juni 1902, yang mengatakan, ”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pemikiran yang sama tentang Tuhan...”

Dalam suratnya kepada H.H van Kol, anggota Freemason yang juga suami dari Nellie van Kol, tertanggal 10 Agustus 1902, Kartini juga mengatakan, ”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa. Tuhannya, Tuhan kita semua.” Sedangkan kepada Stella, dalam surat tertanggal 6 Nopember 1899, Kartini mengatakan, ”Ya Tuhanku, adakalnya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, sebenarnya yang harus mempersatukan semua hamba Allah...orang yang seibu sebapak berlawanan karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai berai. Karena berlainan tempat menyeru Tuhan, Tuhan yang itu juga, berdirilah tembok yang membatasi hati yang berkasih-kasihan. Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati...

Kumpulan surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar bisa dilihat dalam korespondensi Kartini periode 1899-1903, yang kemudian dikumpulkan oleh Dr. Joost Cote dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, ”Aku Mau...Femininisme dan Nasionalisme: Surat-Surat Kartini Kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903”. Buku ini diterbitkan pada 1979 untuk mengenang seabad wafatnya Kartini.

Sosok lain yang menjadi sahabat Kartini adalah Nyonya Rosa Manuela Abendanon Mandri atau sering disingkat Ny. RM Abendanon Mandri. Perempuan berdarah Yahudi, kelahiran Puerto Rico ini adalah istri kedua dari Jacques Henri Abendanon, Direktur Kementerian Pengajaran, Ibadat, dan Kerajinan di Hindia Belanda. Ny. Abendanon disebut oleh Kartini sebagai orang satu-satunya yang banyak mengetahui kehidupan batinnya.Ny. Abendanon juga banyak mengirimkan buku-buku terutama tentang humanisme, diantaranya buku Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens. Kartini juga membaca buku De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.

Surat-surat Kartini dengan RM Abendanon kemudian diterbitkan pada 1911 oleh Kartini Fonds, sebuah lembaga yang dibentuk oleh seorang humanis yang juga terlibat dari Gerakan Politik Etis, Conrad Theodore van Daventer. Kumpulan surat tersebut kemudian diberi judul “Door Duisternis tot Licht”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sastrawan anggota Theosofi, Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”

Majalah Tempo, 12 Oktober 1987, mengulas mengenai terbitnya buku yang berisi surat menyurat Kartini dengan Ny. RM Abendanon dan J.H Abendanon. Majalah Tempo menulis, tak semua surat-surat Kartini ditampilkan dalam buku tersebut. Stella, yang diduga memiliki sedikitnya 20 surat Kartini, hanya meminjamkan 14 pucuk. Annie Glaser, sosok yang disebut dalam surat Kartini, yang menceritakan spiritualisme gaib, bahkan sama sekali menolak meminjamkan surat-srat Kartini yang ada di tangannya untuk dipublikasikan.

Sejumlah surat lainnya, diterbitkan namun sudah diedit dan dipotong oleh Ny. Abendanon. Inilah yang menjadi pertanyaan sebagaimana diajukan oleh Dr.Th Sumarna dalam bukunya “Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini”, entah dengan alasan apa surat-surat Kartini yang berisi yang berisi pengalamannya dalam dunia okultislme dan mistisisme “disensor” oleh Abendanon? Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.

Cerita mengenai okultisme sempat disinggung oleh Kartini dalam suratnya, 15 Juli 1902. Kartini menulis, ”Mengenai spiritisme yang dianutnya (Tuan Van Kol, pen) dengan setia, sudah diceritakan Annie kepada Nyonya, bukan? Saya senang sekali bahwa diperkenalkan dengan kepercayaan itu, tidak untuk memanggil rohnya, tetapi mengenai indahnya kepercayaan itu. Ajaran itu mendamaikan kami banyak hal, yang tampaknya ketidakadilan berat dan memberikan hiburan, bahwa kegagalan kami sekarang dalah penebusan dosa dalam kehidupan sebelumnya...kami sungguh-sungguh tercengang. Tuan Van Kol mengatakan bahwa dia dan istrinya melalui spiritisme memperoleh banyak nasihat dari dunia arwah.”

Tuan dan Nyonya Abendanon adalah sahabat karib Snouck Hurgronje. Atas saran Snouck-lah, Tuan Abendanon, yang juga berdarah Yahudi, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan di Hindia Belanda, diminta untuk mendekati Kartini bersaudara.Snouck yang ketika itu menjabat sebagai Penasehat Pemerintahan Hindia Belanda, meminta Abendanon agar menaruh perhatian lebih kepada Kartini. Tujuannya adalah, merekrut sebanyak mungkin anak-anak priayai agar tercapai proses asimiliasi antara kebudayaan Barat dan pribumi.

Kepada Ny. Abendanon, Kartini pernah menitip pesan agar menanyakan hal yang berkaitan dengan hukum Islam. Kartini menganggap Snouck sebagai orang yang paham Islam, padahal sesungguhnya seorang orientalis yang pura-pura mendalami Islam. Kartini menulis, ”Apabila bila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr Snouck Hurgronje, sudikah nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut:Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. Bagaimana undang-undang agama mereka? Suatu hal yang bagus sekali, saya malu bahwa kami sendiri tidak tahu tentang hal itu...

Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H.H Van Kol (anggota Freemason), Ny Nellie Van Kol, Ny M. C.E Ovink Soer, E.C Abendanon (anak J.H Abendanon), dan Dr N Adriani. Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel dan spiritualisme, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.

Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia memiliki cerita lain. Ridwan mengatakan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu. Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen.Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.

Tulisan ini bisa dibilang adalah pengantar bagi mereka yang ingin meneliti secara serius dan mendalam tentang bagaimana pemikiran dan paham keagaaman Kartini, dan sejauh mana para keturunan Yahudi tersebut mempengaruhi pemikirannya? Dalam buku ”Gerakan Theosofi di Nusantara”, penulis menyimpulkan bahwa corak pemikiran dan keagamaan Kartini sangat kental dengan muatan Theosofi. Itu tercermin dari surat-suratnya dan pertemanannya dengan para Yahudi Belanda. Namun, bisa saja data yang tak terungkap lebih banyak, mengingat surat-menyurat Kartini tak semuanya diterbitkan, dan sebagian entah kemana...

*Penulis buku ”Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara”, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010. (eramuslim)

Selasa, 26 April 2011

Kisah Pemuda “Al-Miski” (yang harum seperti kasturi)

Ada seorang pemuda yang kerjanya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini di kenal dengan nama "Faraqna" oleh orang-orang. Walau pun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sangat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pati menyenanginya.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besar, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya: "faraqna-faraqna", tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatanya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersilakan masuk ke dalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta dalam hatinya.

Lalu si wanita itu berkata : "Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan dirumah ini sekarang kosong. " Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat sesuatu dengan dirinya. Pemuda ini menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menakut-nakuti dengan azab yang pedih di sisiNya.

Tetapi sayang, nasehat itu tidak membuahkan hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita makin berhasrat. Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang... Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: "Bila engkau tidak mau menuruti perintahku, aku berteriak pada semua orang dan aku katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku."

Setelah si pemuda melihat betapa si wanita itu terlalu memaksa untuk mengikuti keinginannya berbuat dosa, akhirnya dia berkata: "Baiklah, apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu?" Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa keinginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab : "Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus."

Kemudian masuklah si pemuda itu ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perangkap syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita kecuali syaitan dari pihak ketiga.

"Ya Allah, apa yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, Wahai Dzat yang memberi petunjuk bagi orang-orang yang bingung ." Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya." Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: "Aku takut kepada Allah." Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepadaNya, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik dan seringkali satu keinginan syahwat itu akan penyesalan seumur hidup.”

“Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku... Tidak... tidak... Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram... Tetapi apa yang akan harus aku kerjakan. Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ini? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau begitu aku harus mengolesi tubuhku dengan kotoran yang ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam kedaan begini, dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi."

Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubuhnya dengan yang ada di situ. Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: "Ya Rabbi, wahai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku 'kebaikan' sebagai gantinya."

Kemudian dia keluar dari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan demikian, si wanita itu berteriak : "keluar kau hai orang gila!" Dia pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang tertawa melihatnya. Akhirnya dia tiba dirumahnya , di situ dia bernapas lega. lalu menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya dengan sebersih-bersihnya.

Kemudian apa yang terjadi? Adakah Allah akan membiarkan hamba dan waliNya begitu saja? Tidak... Ternyata, ketika dia keluar dari kamar mandi, Allah Subhanahu wa Ta'alah memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya dia mendapat julukan "Al-miski" (yang harum seperti kasturi).

Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda itu meninggal dan dikuburkan, mereka tulis diatas kuburanya "Ini kuburan Al-Misky", dan banyak orang yang menziarahinya.
Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan membiarkan hambaNya yang shalih begitu saja, tapi Allah Subhanahu wa Ta'ala akan selalu membelanya, Allah  senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam hadits QudsiNya yang artinya: "Bila dia (hamba) memohon kepadaKu, pasti akan Aku beri. Mana orang-orang yang ingin memohon?!"

Pembaca yang budiman! Setiap sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada gantinya. Begitu pula larangan yang datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran sebagai penggantinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah pengorbanan yang kecil.
Allahu Akbar.

Manakah orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah sehingga mereka berhak mendapatkan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil yang mereka berikan? Tidakkah mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam dan seruan fitrah yang suci?

Dikutip dari: Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


Kisah wanita pertama mati syahid

Dialah Sumayyah binti Khayyat radhiallahu ‘anha, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekah. Karenanya, tidak ada kabilah yang dapat membelanya, menolongnya, dan mencegah kezaliman atas dirinya. Sebab, dia hidup sebatang kara, sehingga posisinya sulit di bawah naungan aturan yang berlaku pada masa jahiliyah.

Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindungannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Hudzaifah, sehingga akhirnya dia dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah. Dia hidup bersamanya dan tenteram bersamanya. Tidak berselang lama dari pernikahannya, lahirlah anak mereka berdua yang bernama Ammar dan Ubaidullah.

Tatkala Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki, beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah. Akhirnya, berpikirlah Ammar bin Yasir sebagaimana berpikirnya penduduk Mekah. Karena kesungguhan dalam berpikir dan fitrahnya yang lurus, maka masuklah beliau ke dalam agama Islam.

Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh barakah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya, sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Dari sinilah dimulainya sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk yang pertama kalinya.

Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat, sehingga orang-orang kafir tidak menanggapinya, melainkan dengan pertentangan dan permusuhan.

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari agama mereka, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir tatkala keadaannya sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan di atas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan “Ahad… Ahad…”, beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, Ammar, dan Bilal.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa degan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru:

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Jannah.”

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau bertambah tegar dan optimis, dan dengan kewibawaan imannya dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Begitulah, Sumayyah telah merasakan lezat dan manisnya iman, sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Di hatinya telah dipenuhi akan kebesaran Allah Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para taghut yang zalim. Mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya sekalipun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Tatkala para taghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah, maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya dengan melakukan berbagai penyiksaan kepada sumayyah.

Abu Jahal, panglima kezhaliman memakaikan baju besi pada Sumayyah, kemudian menjemurnya dibawah terik panas matahari yang membakar. Walaupun begitu ia bersabar dan mengharap pahala, ia tidak berharap sesuatu kecuali Allah dan Hari Akhir. Ketika sikap beliau ini mematahkan kesombongan Abu Jahal, dan mengobarkan kemarahan di hatinya, Abu Jahal melakukan apa yang dilakukan oleh para penguasa zhalim lagi jahat ketika tak mampu berbuat apa-apa. Karena ketegaran Sumayyah radhiallahu ‘anha dalam agamanya, Abu Jahal mendekatinya, kemudian menusuknya dengan tombak hingga meninggal dunia.

Dalam kitab ‘Usdhu al-ghabah’, al-Hafizh Ibnu hajar mengatakan, “Abu Jahal menusuk sumayyah dengan tombak yang ada ditangannya pada kemaluannya hingga meninggal dunia. Beliau adalah orang yang mati syahid pertama dalam Islam, beliau dibunuh sebelum hijrah, dan beliau termasuk diantara orang yang memperlihatkan keislamannya secara terang-terangan pada awal datangnya Islam.”

Ini adalah merupakan pelajaran bagi setiap mukminah yang diinginkan oleh orang-orang yang berbuat dosa untuk dicopot dari agamanya, hendaknya ia meneladani ketegaran, keteguhan dan kesabaran Sumayyah. Semboyannya adalah perkataan Abu Athiyah:

“Bersabarlah dalam kebenaran, engkau akan merasakan manisnya Kesabaran demi kebenaran (yang) terkadang harus melalui kepedihan”.

Hal ini juga menunjukkan bahwa sabar itu tidaklah ada batasnya, sampai Allah mendatangkan keputusan dan ketetapan-Nya.

Wallahu a'lam.

Sumber: Nisaa’ Haular Rasuul, Mahmud Mahdi al-Istanbuli, Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi dan Durus min Hayat ash-Shahabiyat, karya Abdul Hamid bin Abdurrahman as-Suhaibani.


 
Jl. KH. Abdul Kadir Daud No. 22 Kota Palopo | Telp. (0471) 3334334 | Email: ikhwahpalopo@gmail.com